TUGAS UTS M.Kn ANGKATAN VII

Berikut ini tugas UTS Teori Hukum Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Angkatan VII. Download disini

Surabaya,19 Agustus 2014
Dosen,

 

RUSDIANTO SESUNG

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pembagian Kelompok Hukum Administrasi (S1) Kelas B

Berikut ini adalah pembagian kelompok dan tugas mata kuliah Hukum Administrasi Kelas B. Bagi mahasiswa yang belum mendapat bagian kelompok, kelompok akan dibentuk pada perkuliahan hari Senin, 17 Maret 2014. Download tugas di sini

 

Surabaya, 11 Maret 2014

Dosen Pengampuh,

 

Rusdianto Sesung

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SOAL UJIAN PERBAIKAN

berikut ini soal UTS Perbaikan. Download di sini

 

Dosen Pengampuh,

 

RUSDIANTO SESUNG

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tugas UTS Teori Hukum

Berikut ini tugas UTS Teori Hukum M.Kn VI. Download di sini

 

Surabaya, 21 Februari 2014

Dosen,

 

RUSDIANTO SESUNG

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tugas UTS Teori Hukum

Berikut ini tugas UTS Teori Hukum Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Angkatan VI. Download disini

Surabaya, 21 Februari 2014
Dosen,

RUSDIANTO SESUNG

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bantuan Hukum dalam Organisasi Keagamaan

Semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan pentingnya membantu orang miskin. Dorongan untuk memperhatikan dan membantu fakir miskin begitu banyak disebut dalam al-Qur’an. “Maka berilah kepada keluarga yang dekat, orang miskin, dan ibnu sabil akan hak-haknya.

Yang demikian itu baik bagi orang-orang yang mengharapkan keridlaan Allah (Ar-Rum ayat 26). Konsep zakat, sedekah, dan infaq dalam Islam termasuk bagian dari upaya membantu orang miskin.

Demikian pula ajaran agama lain. ‘Kelaparan adalah penyakit yang paling berat,” kata Sang Budha suatu kali, saat menyaksikan orang miskin. Kepada para bikhsu, Budha memberi gambaran tentang orang miskin. “Aku melihat orang itu mempunyai kemampuan untuk mencapai tingkat kesucian”.

Penganut Kristen percaya bahwa hidup dan karya Yesus adalah untuk membebaskan orang miskin yang terbelenggu dalam kemiskinan. Percaya kepada Kristus berarti mengikuti pola dan tindakan-Nya serta memperhatikan sesama manusia tanpa membedakan mereka. Gambaran itu pula yang terpatri dari puluhan tahun kerja sosial yang dilakukan Bunda Theresia bukan hanya di Calcutta India, tetapi juga di berbagai belahan dunia.

Konsep bantuan hukum probono yang kita kenal sering diasosiasikan dengan orang tidak mampu alias miskin. Konsep ini pula yang kemudian diakomodir dalamUU No. 16 Tahun 2011tentang Bantuan Hukum. Penerima bantuan hukum, demikian rumusan Undang-Undang ini, adalah orang atau kelompok orang miskin. Dengan kata lain, orang miskin adalah sasaran utama pemberian bantuan hukum.

Oleh karena bantuan terhadap orang miskin acapkali dilakukan secara terorganisir oleh kelompok keagamaan, maka kelompok dimaksud menjadikan bantuan hukum kepada orang miskin sebagai program pula. Bantuan hukum hanya salah satu jenis bantuan yang diberikanorganisasi keagamaankepada para pengikut, bahkan dalam beberapa kasus diberikan secara lintas agama. Maka, kita kenal sekarang beberapa organisasi keagamaan memiliki lembaga bantuan hukum, biro konsultasi hukum, atau nama lain yang fungsinya sejenis. Bahkan dalam struktur organisasi, urusan hukum menjadi bagian penting. Misalnya, kita mengenal Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nadhdlatul Ulama (LPBH NU), atau Lembaga Bantuan Hukum Budhis.

Ada juga lembaga bantuan hukum yang tak berafiliasi secara terbuka dengan ormas keagamaan tertentu, tetapi dibentuk terutama atas dorongan atau spirit keagamaan untuk membantu sesama ummat manusia, meskipun dalam praktik tak membeda-bedakan klien atas dasar agamanya. Kita juga mengenal banyak lembaga yang memberikan layanan bantuan hukum sepertiLBH Mawar Saron, Tim Pembela Muslim, danPaham Indonesia.

Sejak kapan?

Tidak diperoleh catatan resmi sejak kapan LBH pada organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia muncul. Literatur bantuan hukum selalu memulai riwayat bantuan hukum di Indonesia dari pendirian LBH pada 1970. Abdurrahman, dalam bukunyaAspek-Aspek Bantuan Hukum di Indonesia (1980: 51-52) mencatat setelah LBH berdiri, lembaga sejenis berkembang di daerah.

Setahun setelah pendirian LBH, diadakan konperensi yang dihadiri 17 LBH, termasuk dari perguruan tinggi. LBH yang digagas Adnan Buyung Nasution juga terus berkembang, dan kini ada 14 LBH di bawah naungan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Andi Najmi Fuadi, Ketua LPBH NU, mengatakan Pengorganisasi bantuan hukum di lingkungan NU lebih dahulu ada di daerah sekitar 30 tahun silam, baru kemudian dimasukkan ke dalam struktur organisasi pusat. Dengan kata lain, pemberian bantuan hukum kepada kaumnahdliyinsudah dilakukan sebelum LPBH pusat dibentuk.

Abdurrahman – kini hakim agung– mencatat sejak 1978 ‘terjadi perkembangan yang cukup menarik bagi bantuan hukum di Indonesia’ seiring munculnya LBH dengan berbagai nama. Ada yang sifatnya independen, organisasi yang dibentuk organisasi politik atau ormas, ada pula yang dikaitkan dengan lembaga pendidikan.

Mulyana W. Kusumah, dalam bukunyaBantuan Hukum dan Pemerataan Keadilan(1983: 1) juga mencatat pada 1983 bahwa ada peningkatan empat kali lipat jumlah organisasi yang menyelenggarakan bantuan hukum dibanding sebelum tahun 1978. Ada lima wadah yang dicatat Mulyana, yakni: (i) LBH yang bernaung di bawah fakultas hukum; (ii) bantuan hukum yang dibentuk organisasi profesi advokat; (iii) LBH yang dibentuk kekuatan sosial politik tertentu; (iv) LBH yang dibentuk kelompok-kelompok kepentingan; dan (v) organisasi bantuan hukum yang dibentuk oleh kelompok sosial tertentu.

Salah satu penyebab menjamurnya lembaga pemberi bantuan hukum seperti disinggung Abdurrahman dan Mulyana adalah dukungan finansial yang diberikan baik pemerintah pusat maupun daerah.

Ada plus minus atas kehadiran lembaga bantuan hukum pada organisasi keagamaan. Abdurrahman mengatakan “kenyataan semacam itu dapat menimbulkan beberapa kemungkinan, dapat dilihat secara positif dapat pula dilihat negatif dalam arti dapat menghilangkan atau menjadikan menyimpangnya ide bantuan hukum dalam praktek”. Namun salah satu pertanyaan yang diajukan Prof. Soerjono Soekanto (alm), dalam bukunyaBantuan Hukum, Suatu Tinjauan Sosio Yuridis(1983: 118), apakah menjamurnya LBH tersebut sebagai bukti bantuan hukum untuk golongan tidak mampu atau miskin sudah membudaya? “Tidaklah mudah menjawab pertanyaan itu,” tulis Soerjono.

Penyuluhan hingga litigasi

Memang tidak mudah menjawab apakah LBH pada organisasi keagamaan efektif atau tidak. Yang jelas, kehadirannya dibutuhkan masyarakat. Apalagi sebagian besar LBH tersebut menerapkan kebijakan lintas agama. Penganut agama lain pun boleh dibantu.

Fokus utama LBH keagamaan juga berbeda. LBH Budhis, kata Ketua lembaga ini, Budiman, masih lebih fokus pada penyuluhan hukum. Sebagai organisasi yang baru dibentuk, LBH Budhis, belum menerima permohonan untuk litigasi kasus. “Tapi kalau nanti ada kasus yang butuh litigasi, ya kita jalani,” kata Budiman kepadahukumonline.

Bantuan Hukum Front, lembaga bantuan hukum di bawah bendera Front Pembela Islam (FPI) termasuk yang sudah aktif memberikan advokasi hingga ke pengadilan. Misalnya, ketika mendampingi Bambang Tedi, Ketua FPI Yogyakarta, yang diproses hukum di PN Yogyakarta, Februari-April 2012. Ada pula organisasi keagamaan yang tak memiliki struktur kelembagaan LBH. Kalaupun ada kasus yang menimpa pengurus atau anggota organisasi, mereka menyerahkan kepada pengacara di luar organisasi. Bahkan ada yang dibentuk sesuai kebutuhan saja. M.R. Siahaan, mantan Ketua Biro Hukum Persatuan Gereja Indonesia (PGI) mengatakan pembentukan biro hukum pada 1989 karena saat itu dianggap perlu. Kalau belakangan biro hukum PGI tak ada lagi ‘bisa jadi (karena) dianggap tidak perlu’.

Posisi dalam UU Bankum

UU No. 16 Tahun 2011memberikan payung hukum pemberian bantuan hukum bagi orang miskin. Mulai berlaku sejak 2 November 2011, UU Bantuan Hukum (UU Bankum) memberi batasan tentang siapa yang berhak menerima bantuan hukum, dan lembaga mana yang berhak memberi. Batasan ini penting karena ke depan negara akan menyediakan dana bantuan hukum dalam APBN. Tentu saja, dana bantuan hukum itutak boleh dipandang sebagai proyek.

Apakah LBH di organisasi keagamaan termasuk pemberi dana bantuan hukum kepada penerima menurut UU Bankum? Pasal 1 angka 3 menyebutkan Pemberi Bantuan Hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum berdasarkan Undang-Undang ini. Ada dua batasan yang disebut: (i) lembaga bantuan hukum; atau (ii)organisasi kemasyarakatan atau ormasyang memberikan layanan bantuan hukum. Syarat ormas telah ditentukan dalam UU No. 8 Tahun 1985.

Agar LBH di organisasi keagamaan bisa masuk kategori Pemberi Bantuan Hukum, UU Bankum sudah memberikan syarat. Antara lain harus berbadan hukum, terakreditasi, memiliki kanto atau sekretariat, memiliki pengurus, dan memiliki program bantuan hukum.

Berdasarkan penelusuranhukumonline, tak semua divisi hukum di organisasi keagamaan memiliki struktur LBH, dan tak semua LBH tersebut memiliki kantor khusus atau sekretariat. Layak tidaknya LBH pada organisasi keagamaan menjadi penerima dana bantuan hukum sangat ditentukan Tim Verifikasi dan Akreditasi yang dibentuk Kementerian Hukum dan HAM.

sumber : http://hukum-indonesia.com/10-advokat/24-bantuan-hukum-dalam-organisasi-keagamaan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RUU Pemilu: Mantan Napi Bisa Dipilih Jadi Caleg

Pansus RUU Pemilu terus menggodok aturan main dalam Pemilu. Salah satunya, DPR membuka ruang bagi mantan narapidana yang ingin mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg). “Sudah disetujui bahwa konsepnya kita memberikan hak bagi mantan terpidana untuk bisa dipilih menjadi anggota DPR, DPRD dan DPD,” ujar Wakil Ketua Panja RUU Pemilu I Gede Pasek Suardika saat dihubungi detikcom, Minggu (29/1/2012).

Menurut Gede, alasannya utama mantan narapidana bisa menjadi caleg adalah persamaan hak setiap warga negara. Bila toh mereka pernah melakukan kesalahan lantas dipidana, hal itu sudah ditebus dengan pidana penjara yang ia jalani. “Banyak juga orang yang dulu jahat setelah dipenjara malah jadi baik. Jadi tauladan dan sering memberi ceramah yang baik,” terangnya.

Menurut Gede, aturan ini nantinya tidak berlaku bagi residivis. Menurut Panja, residivis tidak perlu mendapatkan hak politiknya untuk dipilih karena ia mengulangi perbuatan jahat yang telah dilakukannya.

“Saat ini aturan ini sudah disetujui, tetapi memang belum diketuk palu karena redaksionalnya sedang dibahas di tim perumus. Tetapi sudah disetujui bahwa mantan napi boleh memiliki hak politik untuk jadi caleg,”terangnya. Namun mantan napi yang boleh menjadi caleg bukan tanpa syarat. Eks napi baru boleh mencalonkan diri setelah lima tahun bebas dari hukuman.

“Dan dia harus mengumumkan kepada publik bahwa dia seorang mantan narapidana ketika mencalonkan diri. Jadi, pertama tidak berlaku untuk residivis, selain itu baru boleh lima tahun setelah bebas dari penjara dan harus mengumumkan bahwa dirinya mantan napi saat nyaleg,” terangnya.

Panja Pemilu merumuskan hal itu mengadopsi putusan MK pada tahun 2009 terkait uji materi 3 pasal di UU Pemilu dan Pemda yang yang membolehkan mantan terpidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau lebih dapat penjadi peserta pemilu. Uji materi itu diajukan oleh Robertus, eks terpidana kasus pembunuhan di Pagar Alam, Sumsel. Berbekal putusan MK itu, Robertus berniat ikut Pemilu 2014.

Meski demikian, putusan pada 3 pasal itu dinyatakan inskonstitusional bila tak memenuhi empat syarat yang ditetapkan MK yaitu: 1. Tak berlaku untuk jabatan publik yang dipilih (elected officials), 2. Berlaku terbatas jangka waktunya hanya selama lima tahun sejak terpidana selesai menjalani hukumannya 3. Dikecualikan bagi mantan terpidana yang secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana; 4. bukan sebagai pelaku kejahatan yang berulang-ulang.

sumber : http://hukum-indonesia.com/12-nasional/6-ruu-pemilu-mantan-napi-bisa-dipilih-jadi-caleg

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ruhut Sitompul Menangis

VIVAnews – Ruhut Sitompul akhirnya memilih mengundurkan diri sebagai calon Ketua Komisi III DPR. Keputusan yang diambil Ruhut ini, agar tidak
lagi menjadi polemik di komisi itu.

“Jadi, terimakasih semuanya, saya secara ksatria, saya tidak mau ada polemik di komisi ini, dan janji saya ingin menegakkan hukum, tetap saya jalankan. Izinkan, saya mengundurkan diri sebagai ketua. Dan saya tetap menjadi anggota komisi III,” kata Ruhut sambil sesekali kalimat itu terhenti dan menyeka air matanya.

Meski terus-terusan diserang masalah pribadi oleh anggota Komisi lainnya, tetapi Ruhut memilih untuk tidak mau membalas dengan mengungkap kasus mereka. “Lima kawan ini saya tidak akan mengungkap aibnya, padahal saya lengkap data-data. Kalau saya ungkap, saya tidak konsisten pada agama saya,” ujar Ruhut.

Ruhut mengatakan, dia lebih memilih untuk mengundurkan diri, dibanding harus melakukan voting untuk jabatan ketua komisi ini. Sebab, menurunya, mekanisme voting ini justru melecehkan Partai Demokrat. “Ini hak kami, kami tidak kepingin voting, kalau Bapak-bapak ingin voting, kami tidak,” kata Ruhut.

Keputusan pengunduran diri ini, kata Ruhut, sudah dia sampaikan kepada Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Harian Syarif Hasan, dan Ketua Fraksi Nurhayati Ali Assegaf. “Mereka sebenarnya tidak bisa terima,” ujar dia.

Ruhut pun, kembali meneteskan air matanya ketika dia mengenang ungkapan anaknya. “Papi jadi anggota saja sudah cukup sibuk, tidak jadi ketua sudah terkenal, banyak TV yang undang papi,” kata Ruhut menirukan ucapan anaknya.

Mendengar pengunduran diri ini, Syarifudin Suding, Ahmad Yani dan Abu Bakar langsung menyalami Ruhut dan memeluknya. Ruhut juga mendatangi meja pimpinan untul menyalami Priyo Budi Santoso, Gede Pasek Suuardika, Al Muzammil Yusuf, Aziz Syamsudin dan Tjatur Sapto Edi.

Priyo Hormati

Priyo mengatakan, sangat menghormati keputusan Ruhut dengan mengundurkan diri. “Saya memberi penghormatan kepada Ruhut, demi kebaikan bersama, dengan mundur,” kata Priyo yang memimpin forum ini.

Sebelum Ruhut mengatakan mengundurkan diri, Priyo memang suudah memutuskan untuk melaukan voting. Karena, beberapa anggota meminta untuk dilakukan voting. Tapi, hal itu batal karena Ruhut mengundurkan diri.

“Kami menghargai pandangan, Ruhut sebagai kandidat tunggal yang diusung oleh Fraksi Demokrat, beliau secara personal, dengan berbagai pertimbangan memutuskan mundur dari pencalonan. Posisi ketua hak Demokrat, kami berikan kewenangan lepada kapoksi untuk melaporkan pengunduran diri Ruhut dan mengajukan nama lain, untuk apakah hari ini juga atau minggu depan, kami serahkan pada Partai Demokrat,” kata Priyo.

Sementara, Ketua Kelompok Fraksi Partai Demokrat, Edi Ramli Sitanggang, meminta rapat diskrors untuk musyawarah dengan anggota dari fraksi Demokrat untuk menentukan pengganti Ruhut.

Sumber : VIVAnews

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JADWAL KULIAH MAGISTER HUKUM

Berikut ini jadwal kuliah Program studi Magister Hukum angkatan 25, 27 dan 28.

 

Surabaya, 1 Desember 2012

Sekretaris Pascasarjana Fakultas Hukum

 

 

RUSDIANTO S, S.H., M.H.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NILAI UJIAN AKHIR SEMESTER TEORI HUKUM M.Kn ANGKATAN II

Berikut ini nilai UAS Teori Hukum M.Kn Angkatan II beserta tugas untuk Perbaikan Nilai;

download disini

 

Catatan: Nilai UAS bukanlah Nilai Akhir. Nilai Akhir didapat dari: Nilai Tugas + Nilai UTS + Nilai UAS

Posted in Uncategorized | Leave a comment